Media belajar Islam – Ahlus Sunnah Wal Jamaah – Sunni Salafiyah

Aqidah golongan yang selamat – al Firqah an-Najiyah

Archive for the ‘Ibadah’ Category

Haul dan Ziarah Kubur

leave a comment »

H A U L & ZIARAH KUBUR
===================
Salah satu amaliah ASWAJA yang tidak luput dari sorotan sebagian kaum adalah kegiatan HAUL atau Ziarah Kubur ke makam orang –orang sholih yg diselenggarakan setiap tahunnya khususnya oleh Warga Nahdliyin .
.
Mensikapi hal tsb pada kesempatan kali ini saya akan mencoba utk sedikit mengulas nya dg harapan agar bisa meminimalisir syukur syukur bisa menghilangkan kesalah fahaman yg muncul atau sengaja dimunculkan oleh segolongan kaum terhadap kegiatan HAUL dan Ziarah Kubur
.
Kata “H A U L” berasal dari bahasa Arab yang berarti setahun.
Peringatan “H A U L” berarti peringatan setiap setahun sekali.
.
Khususnya di Indonesia kata “H A U L” ini sering diberi akhiran “AN” sehingga menjadi “HAULAN”.
.
Akhiran “AN” dalam bahasa Indonesia bisa berarti sesuatu yang dilakukan berulang – ulang, seprti dalam kata : Agustusan – Selamatan – Arisan – Mauludan – Yasinan – TAHLILAN – DLL.
.
Akhiran “AN” dlm bahasa Indonesia menunjukkan pengulangan atau sesuatu yang dilakukan berulang –ulang.
.
Dalam salah satu Hadits telah dijelaskan sebagai berikut:
.

كَانَ النَّبِيُّ يَأْتِي قُبُوْرَ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ رَأْسِ الْحَوْلِ فَيَقُوْلُ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ قَالَ وَكَانَ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ (مصنف عبد الرزاق 6716 ودلائل النبوة للبيهقى 3 / 306)
“Diriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim al-Taimi, ia berkata: Rasulullah Saw mendatangi kuburan Syuhada tiap awal tahun dan beliau bersabda: Salam damai bagi kalian dengan kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (al-Ra’d 24). Abu Bakar, Umar dan Utsman juga melakukan hal yang sama” (HR Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf No 6716 dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwah III/306)
(Derajat Hadits Shohih)
.
Dalam hadits tersebut telah dijelaskan bahwa Rosululloh saw setiap tahun mengunjungi makam para shohabatnya di Gunung Uhud..
Read the rest of this entry »

Advertisements

Written by SunniAswaja

July 22, 2016 at 4:01 pm

Posted in Ahlusunnah, Ibadah

Tabarruk Bukanlah Perbuatan Bid’ah Sesat Apalagi Syirik

leave a comment »

*TABARRUK BUKANLAH PERBUATAN BID’AH SESAT APALAGI SYIRIK*

Oleh: Abu Hilya

Tabarruk adalah bentuk lain dari Tawassul. Diantara amaliyah (kebiasaan) yang berlaku dalam kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah khususnya warga Nahdliyyin yang *sering dituduh sebagai perbuatan “Bid’ah Sesat” bahkan “Syirik”adalahTABARRUK* yang dalam kalangan santri biasa dikenal dengan istilah Ngalap Barokah.
Tulisan kami kali ini tiada lain hanyalah sebagai upaya “Tabaayun” klarifikasi *bahwa apa yang kami yakini juga memiliki dasar hukum yang sah*,yang selanjutnya semoga dapat menghilangkan atau setidaknya mengurangi kesalah fahaman oleh sebagian kalangan demi terciptanya ukhuwah yang kita citakan bersama.

TABARRUK/NGALAP BERKAH adalah istilah yang digunakan oleh sebagian besar ummat islam guna menyebut perbuatan yang bertujuan mencari/mengharap “Barokah/bertambahnya kebajikan” dari Alloh melalui obyek-obyek yang diyakini sebagai obyek yang dikehendaki oleh Alloh untuk beroleh keberkahan dari-Nya. Adapun obyek/perkara yang dijadikan sebagai sarana mencari berkah dari Alloh kadang berupa Para Nabi dan orang-orang sholih atau berupa Benda peninggalan para Nabi atau orang-orang sholih, dan terkadang berupa tempat yang pernah dipergunakan oleh para Nabi atau orang-orang sholih dalam beribadah kepada Alloh. *Sehingga dapat dikatakan Tabarruk adalah bentuk lain dari Tawassul*.

Sebelum kami kemukakan dalil-dalil yang menjadi dasar/sandaran ummat Islam dalam ber-Tabarruk,perlu kiranya kami tegaskan disini tentang keyakinan kami ketika ber-Tabarruk:
√. Bertabarruk dengan perantara orang-orang sholih,karena kami meyakini keutamaan dan kedekatan mereka kepada Alloh dengan tetap meyakini ketidak mampuan mereka memberi kebaikan atau menolak keburukan kecuali atas izin Alloh. Praktek yang umum dalam Tabarruk dengan orang-orang sholih adalah Tabarruk dengan do’a-do’a mereka atau dengan mencium tangan mereka, menghabiskan sisa makanan atau minuman mereka dll. Adapun diantara dalil/hujjah yang menjadi landasan praktek Tabarruk dengan cara diatas adalah :Sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam

:عَنْ ابْنِ عَبَّاس قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ (( الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ ))
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rosululloh shollalloho ‘alaihi wasallam bersabda : “Barokah itu bersama orang-orang bersar diantara kalian.” (HR. Al Hakim dan Ibnu Hibban) Al Hakim berkata : “Hadits ini shohih menurut syarat Al Bukhori, namun beliau tidak meriwayatkannya”. Adz Dzahabi menyetujuinya.
Read the rest of this entry »

Written by SunniAswaja

July 22, 2016 at 3:52 pm

Posted in Ahlusunnah, Ibadah

Talqin Mayit

leave a comment »

MENTALQINKAN mayyit sesa’at setelah pemakaman diselenggarakan merupakan salah satu amaliah ASWAJA yg juga mendapatkan sorotan tajam dari segolongan kaum atas kesunahan dari amaliah tsb.
.
Sebagai upaya utk menepis pandangan miring dari segolonga kaum terhadap masalah TALQIN tsb , melalui TS ini saya akan mencoba utk mengulas secara ringkas dengan harapan mudah mudahan melalui ulasan ini bisa meminimalisir syukur syukur bisa menghilangkan pandangan negatif terhadap amaliah MENTALQINKAN mayyit sesaat setelah pemakaman

Pengertian Talqin
———————-
Menurut bahasa, talqin artinya : mengajar, memahamkan secara lisan.
Sedangkan menurut istilah, talqin adalah : mengajar dan mengingatkan kembali kepada orang yang sedang naza’ atau kepada mayit yang baru saja dikubur dengan kalimah-kalimah tertentu.
.
Hukum Talqin
—————–
Orang dewasa atau anak yang sudah mumayyiz yang sedang naza’ (mendekati kematian) itu sunat ditalqin dengan kalimat syahadat, yakni kalimat laa ilaaha illallah. Dan sunat pula mentalqin mayit yang baru dikubur, walaupun orang itu mati syahid, apabila meninggalnya sudah baligh, atau orang gila yang sudah pernah mukallaf sebelum dia gila.
.
Read the rest of this entry »

Written by SunniAswaja

July 22, 2016 at 3:45 pm

Posted in Ahlusunnah, Ibadah

Bagaimanakah hukum menggerak-gerakkan jari telunjuk saat salat (Tasyahhud)?

leave a comment »

Bagaimanakah hukum menggerak-gerakkan jari telunjuk saat salat (Tasyahhud)?

Jawaban:
Dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim mengenai tatacara tangan saat tasyahhud adalah meletakkan tangan kanan di atas lutut kanan dengan menggenggam tangan (seperti saat tasyahhud pada umumnya), kemudian Rasulullah berisyarat dengan jari telunjuknya.

Namun ada riwayat an-Nasai (1251) dari sahabat Abu Wail yang melihat Rasulullah Saw menggerakkan jarinya tersebut saat Tasyahhud:
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللهِ g كَيْفَ يُصَلِّي …وَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ أُصْبُعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا (رواه النسائي رقم 1251)

“Wail bin Juhr berkata: Sungguh saya melihat salat Rasulullah… Dan Rasulullah menggenggam tangannya kemudian mengangkat jarinya, saya melihat Rasulullah menggerakkan jarinya” (HR an-Nasai No 1251)

Sementara dari sahabat Ibnu Zubair yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasai mengatakan bahwa Rasulullah Saw tidak menggerakkan jarinya.
Read the rest of this entry »

Written by SunniAswaja

July 22, 2016 at 3:42 pm

Posted in Ibadah

Fatwa Ibnu Hajar: Menggunakan Biji Tasbih

leave a comment »

Buah tasbih merupakan satu benda yang sudah lazim dipergunakan oleh para ulama untuk menghitung jumlah zikir. Namun sebagian golongan menganggap penggunaan buah tasbih untuk menghitung jumlah zikir merupakan perbuatan bid’ah yang para pelakunya diancam dengan siksa neraka. Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanyan tentang hukum memakai biji tasbih.

وسئل- رضي الله عنه – هل للسبحة أصل في السنة أو لا؟
فأجاب) بقوله: نعم، وقد ألف في ذلك الحافظ السيوطي؛ فمن ذلك ما صح عن ابن عمر رضي الله عنهما – «رأيت النبي – صلى الله عليه وسلم – يعقد التسبيح بيده.» وما صح عن صفية: – رضي الله عنها – «دخل علي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وبين يدي أربعة آلاف نواة أسبح بهن، فقال: ما هذا يا بنت حيي. قلت: أسبح بهن، قال: قد سبحت منذ قمت على رأسك أكثر من هذا، قلت: علمني يا رسول الله قال: قولي سبحان الله عدد ما خلق من شيء.
» وأخرج ابن أبي شيبة وأبو داود والترمذي: «عليكن بالتسبيح والتهليل والتقديس ولا تغفلن فتنسين التوحيد، واعقدن بالأنامل فإنهن مسئولات ومستنطقات.» وجاء التسبيح بالحصى والنوى والخيط المعقود فيه عقد عن جماعة من الصحابة ومن بعدهم وأخرج الديلمي مرفوعا: نعم المذكر السبحة.
وعن بعض العلماء: عقد التسبيح بالأنامل أفضل من السبحة لحديث ابن عمر. وفصل بعضهم فقال: إن أمن المسبح الغلط كان عقده بالأنامل أفضل وإلا فالسبحة أفضل

Di tanyakan kepada Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami:
Penggunaan biji tasbih apakah ada landasannya dalam sunnah ataupun tidak ?

Beliau menjawab:
Read the rest of this entry »

Written by SunniAswaja

July 22, 2016 at 3:38 pm

Posted in Ibadah

Keutamaan Hari Jumat

leave a comment »

Tausiah-bungaAllah Ta’ala telah menganugerahkan bermacam-macam keistimewaan dan keutamaan kepada Jumat ini. Diantara keistimewaan itu adalah hari Jum’at, setelah kaum Yahudi dan Nasrani dipalingkan darinya. Sebagaimana Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jum’at sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jum’at sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jum’at, Sabtu dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk”. (HR. Muslim)

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Hari ini dinamakan Jum’at, karena artinya merupakan turunan dari kata al-jam’u yang berarti perkumpulan, karena umat Islam berkumpul pada hari itu setiap pekan di balai-balai pertemuan yang luas. Allah l memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin berkumpul untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah l berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. 62:9)

Maksudnya, pergilah untuk melaksanakan shalat Jum’at dengan penuh ketenangan, konsentrasi dan sepenuh hasrat, bukan berjalan dengan cepat-cepat, karena berjalan dengan cepat untuk shalat itu dilarang. Al-Hasan Al-Bashri berkata: Demi Allah, sungguh maksudnya bukanlah berjalan kaki dengan cepat, karena hal itu jelas terlarang. Tapi yang diperintahkan adalah berjalan dengan penuh kekhusyukan dan sepenuh hasrat dalam hati. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir : 4/385-386).

Read the rest of this entry »

Written by SunniAswaja

April 5, 2013 at 2:06 am

Posted in Ibadah

Puasa Rajab Tidak Bid’ah, Tetapi Sunnah

leave a comment »

Hukum Puasa Rajab

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum puasa Rajab.

Pertama, mayoritas ulama dari kalangan Madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa puasa Rajab hukumnya Sunnah selama 30 hari. Pendapat ini juga menjadi qaul dalam madzhab Hanbali.

Kedua, para ulama madzhab Hanbali berpendapat bahwa berpuasa Rajab secara penuh (30 hari) hukumnya makruh apabila tidak disertai dengan puasa pada bulan-bulan yang lainnya. Kemakruhan ini akan menjadi hilang apabila tidak berpuasa dalam satu atau dua hari dalam bulan Rajab tersebut, atau dengan berpuasa pada bulan yang lain. Para ulama madzhab Hanbali juga berbeda pendapat tentang menentukan bulan-bulan haram dengan puasa. Mayoritas mereka menghukumi sunnah, sementara sebagian lainnya tidak menjelaskan kesunnahannya.

Berikut pernyataan para ulama madzhab empat tentang puasa Rajab.

Madzhab Hanafi

Dalam al-Fatawa al-Hindiyyah (1/202) disebutkan:

 

“Macam-macam puasa yang disunnahkan adalah banyak macamnya. Pertama, puasa bulan Muharram, kedua puasa bulan Rajab, ketiga, puasa bulan Sya’ban dan hari Asyura.”

Read the rest of this entry »

Written by SunniAswaja

May 26, 2012 at 7:10 am

Posted in Ibadah