Media belajar Islam – Ahlus Sunnah Wal Jamaah – Sunni Salafiyah

Aqidah golongan yang selamat – al Firqah an-Najiyah

APA SIH MAKNA UCAPAN IMAM SYAFI’I : JIKA HADITS TERSEBUT SHAHIH MAKA ITU ADALAH MAZHABKU..? (Bagian Ke-1)

leave a comment »

Pengertian Dari Kalimat, “Jika hadits tersebut shahih, maka itu adalah madzhabku.”

~ Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i ~

——

Perkataan para Imam Mazhab empat yang sering disalah pahami oleh para kaum neo-zhahiriyyah dan neo-Khawarij, adalah seperti perkataan dari Al-Imam As-Syafi’i Rahimahullah:

إِنْ صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ

“Jika hadits tersebut shahih, maka itu adalah madzhabku.”

Semua ulama sepakat bahwa kalam tersebut benar-benar wasiat dari Imam Syafi’i, tentang redaksinya ada beberapa riwayat yang berbeda namun memiliki maksud yang sama..

Lalu bagaimana sebenarnya maksud dari wasiat Imam Syafi’i ini? Apakah setiap pelajar yang menemukan sebuah hadits yang shahih bertentangan dengan pendapat Imam Syafi’i maka pendapat Imam Syafii tidak dapat di terima?! Kalau hanya semudah itu tentu akan menjadi tanda tanya bagi kita semua sejauh mana tingkat keluasan keilmuan seorang Mujtahid muthlaq seperti Al Imam Asy Syafi’i, terutama dalam penguasaan ilmu hadits..

Perkataan Al-Imam Ays-Syafi’i Rahimahullah tersebut bagi orang yang berilmu adalah contoh sikap tawadhu atau rendah hati beliau yang luar biasa. Beliau hanya ingin mengingatkan kita semua bahwa mengikuti pendapat mereka tetap wajib merujuk kepada dari mana mereka mengambilnya yakni Al Qur’an dan As Sunnah..

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah telah menghafal dan mendapatkan hadits langsung dari para Salafush Sholeh. Bahkan beliau pun melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh..

Hadits-hadits yang dihafal dan diketahui oleh beliau jauh LEBIH BANYAK dari hadits yang telah dibukukan. Bahkan Imam Bukhari dan Imam Muslim tetap bertalaqqi (mengaji ) dengan ulama-ulama bermazhab yang notabene adalah murid serta cucu murid dari beliau..

Jadi aneh kalau ada ulama yang berpendapat bahwa dia tiba-tiba telah menemukan sebuah hadits shahih baru pada suatu kitab sehingga dengan hadits itu dia tidak perlu mengikuti pendapat Imam Mazhab yang empat. Haditsnya shahih, namun pemahaman mereka terhadap hadits tersebutlah yang menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat..

Para ulama menjelaskan, bahwa maksud perkataan Al-Imam Al-Syafi’i, “Idza/In shahha al-hadits fahuwa madzhabi (apabila suatu hadits itu shahih, maka hadits itulah madzhabku)”, adalah bahwa apabila ada suatu hadits bertentangan dengan hasil ijtihad Al-Imam Al-Syafi’i, sedangkan Al-Syafi’i TIDAK TAHU terhadap hadits tersebut, maka dapat diasumsikan, bahwa kita HARUS MENGIKUTI hadits tersebut, dan meninggalkan hasil ijtihad Al-Imam Al-Syafi’i..

Akan tetapi apabila hadits tersebut TELAH DIKETAHUI oleh Al-Imam Al-Syafi’i, sementara hasil ijtihad beliau berbeda dengan hadits tersebut, maka sudah barang tentu hadits tersebut memang bukan madzhab beliau dan beliau punya dalil hadits yang lebih kuat dari hadits tersebut, atau pemahaman salafus Shalih terhadap hadits tersebut beliau ketahui berbeda..

Hal ini seperti ditegaskan oleh Al-Imam Al-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 1/64.

Oleh karena demikian, para ulama menyalahkan Al-Imam Al-Hafizh Ibn Al-Jarud, seorang ulama ahli hadits bermadzhab Al-Syafi’i, di mana setiap ia menemukan hadits shahih bertentangan dengan hasil ijtihad Al-Imam Al-Syafi’i, Ibn Al-Jarud langsung mengklaim bahwa hadits tersebut sebenarnya madzhab Al-Syafi’i, berdasarkan pesan Al-Syafi’i di atas, tanpa meneliti bahwa hadits tersebut telah diketahui atau belum oleh Al-Imam Al-Syafi’i..

Al-Imam Al-Hafizh Ibn Khuzaimah Al-Naisaburi, seorang ulama salaf yang menyandang gelar Imam Al-A’immah (penghulu para imam) dan penyusun kitab Shahih Ibn Khuzaimah, ketika ditanya, apakah ada hadits yang belum diketahui oleh Al-Imam Al-Syafi’i dalam ijtihad beliau ? Ibn Khuzaimah menjawab, “TIDAK ADA”. Hal tersebut seperti diriwayatkan oleh Al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitabnya yang sangat populer Al-Bidayah wa Al-Nihayah (juz 10, hal. 253)..

Untuk lebih memahaminya, ada baiknya kita lihat bagaimana komentar Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ terhadap wasiat Imam Syafi’i tersebut. Imam Nawawi secara lengkap menyatakan :

وهذا الذى قاله الشافعي ليس معناه ان كل أحد رأى حديثا صحيحا قال هذا مذهب الشافعي وعمل بظاهره: وانما هذا فيمن له رتبة الاجتهاد في المذهب على ما تقدم من صفته أو قريب منه: وشرطه أن يغلب على ظنه أن الشافعي رحمه الله لم يقف على هذا الحديث أو لم يعلم صحته: وهذا انما يكون بعد مطالعة كتب الشافعي كلها ونحوها من كتب أصحابه الآخذين عنه وما أشبهها وهذا شرط صعب قل من ينصف به وانما اشترطوا ما ذكرنا لان الشافعي رحمه الله ترك العمل بظاهر أحاديث كثيرة رآها وعلمها لكن قام الدليل عنده على طعن فيها أو نسخها أو تخصيصها أو تأويلها أو نحو ذلك

“Bukanlah maksud dari wasiat Imam Syafi’i ini adalah setiap orang yang melihat hadits yang shahih maka ia langsung berkata inilah sebenarnya mazhab Syafi’i dan langsung mengamalkan dhahir hadits. WASIAT INI HANYA DITUJUKAN KEPADA ORANG YANG TELAH MENCAPAI DERAJAT IJTIHAD DALAM MAZHAB, sebagaimana telah terdahulu (kami terangkan) kriteria sifat mujtahid atau mendekatinya. Syarat seorang mujtahid mazhab baru boleh menjalankan wasiat Imam Syafi’i tersebut adalah telah kuat dugaannya bahwa Imam Syafii TIDAK MENGETAHUI HADIST TERSEBUT ATAU TIDAK MENGETAHUI KESAHIHAN HADISTNYA. Hal ini hanya didapatkan setelah menelaah semua kitab Imam Syafi’i dan kitab-kitab pengikut beliau yang mengambil ilmu dari beliau. Syarat ini sangat sulit di penuhi dan sedikit sekali orang yang memilikinya. Para ulama mensyaratkan demikian karena Imam Syafi’i mengabaikan makna eksplisit dari banyak hadits yang beliau temukan dan beliau ketahui namun itu karena ada dalil yang menunjukkan cacatnya hadits itu atau hadits itu telah di nasakh, di takhshish, atau di takwil atau lain semacamnya”. (Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Jilid 1 hal 64)

Dari komentar Imam Nawawi ini sebenarnya sudah sangat jelas bagaimana kedudukan wasiat Imam Syafi’i tersebut, kecuali bagi kalangan yang merasa dirinya sudah berada di derajat mujtahid mazhab yang kata Imam Nawawi sendiri pada zaman beliau saja sudah sulit di temukan..

Ulama besar lainnya, Imam Ibnu Shalah menanggapi wasiat Imam Syafi’i ini dengan kata beliau, sbb ;

وليس هذا بالهين فليس كل فقيه يسوغ له أن يستقل بالعمل بما يراه حجة من الحديث

“Tugas ini bukanlah perkara yang mudah, tidaklah setiap faqih boleh mengamalkan hadits yang dinilainya boleh dijadikan hujjah”. (Ibnu Shalah, Adabul Mufti wal Mustafti, hal 54, Dar Ma’rifah)

Hal ini tak lain karena wawasan Imam Syafi’i tentang hadits yang sangat luas, sehingga ketika ada pendapat beliau yang bertentangan dengan satu hadits shahih tidak sembarangan orang bisa menyatakan bahwa Imam Syafi’i tidak mengetahui adanya hadits tersebut, sehingga pendapat beliau mesti ditinggalkan karena bertentangan dengan hadits. Karena boleh jadi Imam Syafi’i meninggalkan hadits shahih tersebut karena ada sebab-sebab yang mengharuskan beliau meninggalkan hadits tersebut, misalnya karena hadits tersebut telah di nasakh, takhsish dan hal-hal lain. Untuk dapat mengetahui hal tersebut tentunya harus terlebih dahulu menguasai kitab-kitab Imam Syafi’i dan shahabat beliau..

WaLLAAHHu a’lamu bish-shawab..

Written by SunniAswaja

July 11, 2016 at 9:13 am

Posted in Bimbingan Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: