Media belajar Islam – Ahlus Sunnah Wal Jamaah – Sunni Salafiyah

Aqidah golongan yang selamat – al Firqah an-Najiyah

Mencium Tangan Orang yang Dihormati

leave a comment »

Bagaimana hukumnya mencium tangan, baik orangtua, guru, atau orang lain yang kita hormati?

Banyak orang yang mudah mengatakan bahwa mencium tangan itu bid’ah, tak ada dasarnya, dan sebagainya, tanpa memeriksanya dengan seksama. Di antaranya dalam masalah mencium tangan. Banyak hadits yang menyebutkan masalah mencium tangan. Di antaranya Sayyidina Jabir disebutkan bahwa Sayyidina Umar mencium tangan Rasulullah.

Demikian diriwayatkan oleh Al-Hafizh lbn Al-Muqri Al-Ashbihani. Sedan¬kan dalam riwayat dari Ummu Aban binti Al- Wari` bin Zari` dari kakeknya, Zari`, di sebutkan bahwa kakeknya itu, yang suatu ketika berada dalam rombongan Abdul Qais, mengatakan, “Ketika datang ke Madinah, kami segera beranjak dari kenda¬raan-kendaraan kami lalu mencium tangan dan kaki Nabi SAW” Hadits ini disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dalam At-Tarikh Al-Kabir. Juga diriwayatkan oleh Abu Daud, Ath¬Thabarani, dan Ahmad.

Ibnu Jad’an meriwayatkan bahwa Tsabit bertanya kepada Anas, `Apakah engkau pernah memegang Nabi SAW dengan tanganmu?”
Anas menjawab, “Ya.” Maka Tsabit pun mencium tangan¬nya.

Di dalam kitab Fath AI-Bari, karya Ibnu Hajar AI-Asqalani, disebutkan bahwa Abu Lubabah, Ka ab bin Malik, dan dua orang sahabat Ka ab mencium tangan Nabi SAW setelah Allah menerima taubat mereka.

Dalam sebuah keterangan, Shuhaib mengatakan, `Aku melihat Ali mencium tangan dan kaki Al-Abbas.” Demikian disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Al Adab Al-Mufrad. Ibnu Katsir dalam kitab¬nya, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dalam keterangan mengenai penaklukan Baitul Maqdis oleh Umar bin Al-Khaththab, mengatakan, “Ketika sampai di Syam, Umar disambut oleh Abu Ubaidah dan para pembesar, seperti Khalid bin Al Walid. Abu Ubaidah dan Umar berjalan saling mendekat, Abu Ubaidah ingin mencium tangan Umar sedangkan Umar ingin mencium kaki Abu Ubaidah. Abu Ubaidah menolak, maka Umar pun menolak”

Para tokoh ulama dari berbagai madzhab pun menjelaskan bolehnya mencium tangan. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya, Fath AI-Bari, menyebutkan bahwa AI-Imam An-Nawawi mengatakan, “Mencium tangan seseorang karena kezuhudannya, keshalihannya, ilmunya, kemuliaannya, atau alasan-alasan ke¬agamaan lainnya, adalah sesuatu yang tidak makruh, bahkan disunnahkan. Tetapi jika mencium tangan seseorang karena memandang kekayaannya, kekuasaannya, atau kedudukannya di kalangan ahli dunia, itu perbuatan yang sangat dibenci.”

Al-Allamah AI-Bajuri dalam Hasyiyah¬nya mengatakan, “Dan disunnahkan mencium tangan karena alasan keshalihan dan alasan-alasaan keagamaan lainnya, seperti ilmu dan kezuhudan. Tetapi perbuatan mencium tangan itu dibenci apabila karena kekayaan dan alasan-alasan keduniaan yang lain, seperti kekuasaan atau kedudukan.”

Bukan hanya para ulama Madzhab Syafii yang berpendapat demikian. Para ulama dari madzhab-madzhab lain juga menegaskan hal yang sama. lbnu Abidin, salah seorang pemuka Madzhab Hanafi, mengatakan dalam Hasyiyah-nya, ‘Tak apa-apa mencium tangan seorang alim yang wara` untuk mendapatkan kebe¬kahan, dan ada pula yang mengatakan bahwa itu sunnah.”AI-Allamah Ath-Tha¬hawi, pemuka Madzhab Hanafi, pun mengatakan, “Mencium tangan seorang alim atau sultan yang adil (karena keadil¬annya, bukan karena kekuasaannya) adalah dibolehkan.”

Kemudian ia mengata¬kan, “Kesimpulan dari apa yang kami sebutkan adalah bahwa mencium tangan itu sesuatu yang dibolehkan.”
Az-Zaila’i dalam kitabnya, Tabyin Al¬Haqaiq, mengatakan, “Dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir dikatakan: Asy-Syaikh AI¬Imam As-Sarkhasi dan sebagian ulama mutaakhirin membolehkan mencium tangan seorang alim atau seorang yang wara` dengan maksud mendapatkan keberkahan.” Sedangkan Ats-Tsauri me¬ngatakan, “Mencium tangan seorang alim atau sultan yang adil adalah sunnah.”

Al-Allamah As-Sifaraini, tokoh ulama Madzhab Hanbali, mengatakan dalam kitabnya, Ghidza’ Al-Albab, bahwa Al¬ Marwadzi menyebutkan, `Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad bin Hanbal) mengenai mencium tangan. Beliau menjawab, Jika itu dilakukan karena alasan agama, tidak apa-apa. Tetapi bila karena alasan dunia, tidak dibolehkan.”

As-Sifaraini juga mengatakan, `AI¬ Hafizh Ibn AI-Jauzi menjelaskan, ‘Sepatutnya seorang penuntut ilmu sangat tawadhu’ kepada seorang alim dan merendahkan diri kepadanya, dan di antara ketawadhu’an itu adalah mencium tangan. Sufyan bin Uyainah dan Fudhail bin ‘lyadh mencium Al-Husain bin Ali Al-Ju’fi; salah satu dari keduanya mencium tangan¬nya dan yang lain mencium kakinya.”

Dan hadits-hadits dan keterangan-keterangan para ulama di atas dapat disimpulkan, mencium tangan karena alasan-alasan agama adalah dibolehkan, sedangkan mencium tangan karena alasan dunia tidak dibolehkan.

Sumber: Web Habib Soleh

Written by SunniAswaja

May 30, 2012 at 3:23 pm

Posted in Ahlusunnah, Tausiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: